Posted in

Cara Mengubah Bahasa Hukum Rumit Jadi Mudah Dipahami

Teknik simplifikasi bahasa tanpa kehilangan makna

Teknik Simplifikasi Bahasa Hukum agar Dokumen Lebih Jelas

Teknik simplifikasi bahasa tanpa kehilangan makna

Bahasa hukum sering dianggap rumit, panjang, dan membingungkan bagi profesional maupun klien non-hukum. Penggunaan istilah Latin, kalimat bercabang panjang, dan terminologi teknis membuat dokumen hukum sulit dipahami.

Akibatnya, kontrak, perjanjian, dan dokumen hukum lainnya berpotensi menimbulkan multitafsir. Kesalahan interpretasi dapat menimbulkan sengketa, kerugian finansial, dan menurunkan kepercayaan pihak terkait.

Oleh karena itu, kemampuan menyederhanakan bahasa hukum tanpa mengurangi makna hukum menjadi keterampilan penting. Drafting yang mudah dibaca membantu profesional lintas bidang memahami hak, kewajiban, dan risiko secara jelas.

Teknik Simplifikasi Bahasa Tanpa Kehilangan Makna

Menyederhanakan bahasa hukum tidak berarti mengurangi kekuatan hukum. Berikut beberapa teknik yang efektif:

  1. Gunakan Kalimat Aktif
    Kalimat aktif lebih jelas dan langsung daripada kalimat pasif.
    Contoh:

    • Pasif: “Laporan bulanan harus diserahkan oleh Pihak Kedua sebelum tanggal 5 setiap bulan.”

    • Aktif: “Pihak Kedua wajib menyerahkan laporan bulanan sebelum tanggal 5 setiap bulan.”

  2. Hindari Kata Ganda atau Redundan
    Kata berulang dapat membingungkan pembaca. Misalnya, istilah “secara hukum dan menurut peraturan yang berlaku” bisa disederhanakan menjadi “sesuai hukum yang berlaku.”

  3. Gunakan Istilah yang Konsisten
    Konsistensi istilah mencegah multitafsir. Jika menggunakan “Penyedia Jasa”, jangan mengganti menjadi “Vendor” di bagian lain tanpa alasan jelas.

  4. Pecah Kalimat Panjang
    Kalimat bercabang panjang sebaiknya dibagi menjadi beberapa kalimat pendek. Setiap kalimat menyampaikan satu ide utama.

  5. Gunakan Bahasa Sehari-hari untuk Istilah Kompleks
    Beberapa istilah hukum dapat dijelaskan dengan bahasa yang lebih umum tanpa mengurangi presisi hukum.
    Contoh:

    • Rumit: “Pihak Kedua dilarang melakukan tindakan yang merugikan hak milik Pihak Pertama.”

    • Sederhana: “Pihak Kedua tidak boleh merugikan hak milik Pihak Pertama.”

  6. Tambahkan Penjelasan Singkat Jika Perlu
    Untuk istilah yang sulit dihindari, sertakan catatan singkat atau definisi di awal dokumen. Hal ini membantu pembaca memahami konteks tanpa mengubah makna hukum.

Contoh Kalimat Hukum yang Bisa Diperbaiki

  1. Contoh 1: Klausul Pembayaran

    • Sebelumnya: “Pihak Pertama akan membayar Pihak Kedua jumlah yang disepakati sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam pasal 5 ayat 2 kontrak ini, paling lambat pada tanggal jatuh tempo pembayaran.”

    • Disederhanakan: “Pihak Pertama wajib membayar Pihak Kedua sesuai Pasal 5 ayat 2 paling lambat tanggal jatuh tempo.”

  2. Contoh 2: Klausul Penyelesaian Sengketa

    • Sebelumnya: “Apabila terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat terkait pelaksanaan kontrak ini, maka para pihak sepakat untuk menyelesaikannya melalui prosedur mediasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

    • Disederhanakan: “Jika terjadi perselisihan, para pihak akan menyelesaikannya melalui mediasi sesuai hukum yang berlaku.”

  3. Contoh 3: Klausul Force Majeure

    • Sebelumnya: “Pihak yang terdampak oleh peristiwa di luar kendali wajar, termasuk bencana alam, perang, atau tindakan pemerintah, dibebaskan dari kewajiban sementara selama peristiwa tersebut berlangsung.”

    • Disederhanakan: “Jika terjadi bencana alam, perang, atau tindakan pemerintah, pihak yang terdampak dibebaskan sementara dari kewajibannya.”

Dengan menyederhanakan kalimat, dokumen tetap mengikat secara hukum namun lebih mudah dipahami.

Dampak Positif Drafting yang Mudah Dibaca

Menyederhanakan bahasa hukum memberikan banyak manfaat bagi perusahaan dan profesional:

  1. Mengurangi Risiko Multitafsir
    Dokumen yang jelas meminimalkan perselisihan akibat interpretasi berbeda antar pihak.

  2. Mempercepat Proses Review dan Persetujuan
    Tim legal dan non-legal dapat memahami dokumen lebih cepat, mempercepat negosiasi dan implementasi kontrak.

  3. Meningkatkan Kepercayaan Klien dan Mitra Bisnis
    Dokumen yang mudah dipahami menunjukkan profesionalisme dan transparansi.

  4. Mempermudah Audit dan Kepatuhan
    Auditor atau regulator dapat meninjau dokumen dengan cepat tanpa kehilangan makna hukum.

  5. Meningkatkan Efisiensi Operasional
    Tim internal dapat mengambil keputusan lebih cepat karena kewajiban dan hak tercantum jelas.

Bahasa Sederhana, Hukum Tetap Kuat

Mengubah bahasa hukum rumit menjadi mudah dipahami bukan sekadar mempermudah pembaca, tetapi strategi untuk meningkatkan efektivitas dan kepastian hukum. Drafting yang sederhana namun presisi membantu profesional:

  • Meminimalkan risiko multitafsir,

  • Mempercepat eksekusi kontrak,

  • Meningkatkan kepercayaan mitra dan klien,

  • Mempermudah audit dan review internal.

Dengan teknik simplifikasi yang tepat kalimat aktif, istilah konsisten, kalimat pendek, dan bahasa sehari-hari dokumen hukum tetap kuat secara hukum namun lebih mudah dipahami. Profesional yang menguasai skill ini menjadi aset berharga bagi perusahaan, mempermudah negosiasi dan mendukung kepatuhan regulasi.

Belajar menulis dengan bahasa hukum yang sederhana tapi tetap sah secara yuridis lewat pelatihan Legal Drafting dari NolKlik tautan ini untuk melihat jadwal terbaru dan penawaran spesial pelatihan Legal Drafting.

Referensi

  1. Subekti, R. (2008). Hukum Perjanjian. Jakarta: Intermasa.

  2. Soerjono Soekanto & Sri Mamudji. (2006). Penelitian Hukum Normatif. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

  3. Black’s Law Dictionary (11th Edition).

  4. Oxford University Press (2020). Plain Language Legal Writing: Simplifying Complex Legal Terms.

  5. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

  6. KUH Perdata Pasal 1313–1338 tentang Perjanjian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *